0

Nadine, diusia 5bulan nya

Holaa, lama gak berjumpa.. Si bayi yang di perut udah lahir lho.. Dan sekarang dah tambah gede. Sudah 5 bulan sekarang usianya.
Tambah pinter, tambah aktif. Here it is beberapa kemampuan dasar yang sudah dicapai my Nad :

Motorik :
1. Sudah hobby tengkurap sendiri, walau kadang masih ogah-ogahan buat balikin badan sendiri. Biasanya lebih memilih panggilin mak-nya buat bantu.
2. Kalau pas tengkurap suka banget ngangkat badan bagian atasnya, hampir membentuk sudut 45derajat
3. Mulai tertarik main dengan kakinya, itu kaki bisa secara ajaib ketekuk ampe ke dada.. *duhh, maknya iri ama ability nya yang ini.. Secara perut emak masih ndut*
4. Belum menemukan jari jempol buat dikenyot, semua jari minimal dua jari masuk secara bergantian buat diemut.
5. Seneng banget kalau didudukin (dibuat posisi duduk gitu), kepalanya sudah tertopang dan mampu bertahan lebih lama.
6. Bisa mindahin mainan dari satu tangan ke tangan lainnya.
7. Tenaganya kenceng boookk.. Kalau pas si emak iseng ambil mainanya, Nadine lumayan kuat megangin mainan supaya gak keambil oleh emak.

Sosial dan Bahasa
1. Hobby banget senyuuuumm, ama orang baru dikenal juga pede aja dia senyum.. Bahkan kalau lagi mood bisa sampai ketawa 🙂
2. Seneng banget diajak ngobrol, matanya semacam memperhatikan dan mulutnya umak-umik semacam mau balas ngobrolnya.
3. Mulai hobby teriak. Hihihihi.. Lagi demen2nya ngomong dengan bahasa planetnya. Kalau kesel karena maknya lebih asyik pegang hp biasanya Nadine pakai suara yang melengking buat manggil mak nya 😀
4. Seneng banget kalau dinyanyiin, terutama lagu anak2.. Kalau mau bobok terus dinyanyiin bisa langsung 100watt matanya..dan, gak jadi deh boboknya.

Emosi :
1. Sudah mulai mengenal kesal, dan marah.. Terutama kalau dipijit si mbah pijit dan pas terkena bagiannya yang lagi sakit.
2. Tertawa, kalau si emak ngajak ngobrol dan niruin suara hewan yang aneh2

Fyuhh, gak terasa dah 5 bulan aja kamu, Nduk.. Bulan depan udah MPASI.. Mari kita bekerjasama lagi.

Iklan
3

susu dan kebutuhan kalsium untuk bumil ….

Salah satu asupan nutrisi yang identik dengan ibu hamil adalah susu. Yup, buat mereka yang gak masalah dengan susu sih fine-fine aja minum susu.. Nah ini masalahnya saya sebetulnya tidak begitu gemar minum susu. Sebelum saya menikah dan sebelum hamil satu-satunya susu yang saya bisa minum hanya sejenis MIlO (eh itu kan lebih banyak coklatnya dari pada susunya kan ya.. hihihi) atau kalau tidak ya susu kotak UHT gambar sapi itu.. Moooo..

Nah, Begitu ketahuan hamil.. Dimulailah euforia susu hamil itu.. Saya sendiri sih nyantai aja, karena menurut beberapa forum diskusi di milist yang saya ikuti seperti di http://theurbanmama.com/forum/topic341-susu-khusus-ibu-hamil-needs-or-not-p14.html. Dan juga hasil ngobrol dengan teman yang pernah hamil intinya adalah susu hamil itu gak begitu penting.. Yang penting adalah asupan kalsiumnya yang dibutuhkan si dedek bayi buat pertumbuhan tulangnya. CMIIW

Saya cukup berbahagia dengan hasil itu, hahahaha… Namun tidak dengan mas Bojo, dia dengan keukeuh nya menyarankan dan bahkan membuatkan SuMil buat saya..yang tentu saja saya minum dengan ogah-ogahan (di awal). Entah kenapa tiap kali mencium bau susu hamil bawaannya eneg dan langsung mual, namun ketika setelah saya selesai minum dan melihat kelegaan serta senyum bahagia terpancar dari mas Bojo jadi nya gak tega kalau gak minum.. hihihihi

Sampai akhirnya saya mencobai berbagai varian dan merk susu hamil. Mulai dari P**nag*n dari rasa coklat, moka atau vanila. Lalu ganti ke Lac**mil, dan akhirnya saya melabuhkan hati ke B**e Mama rasa strawberry yang lumayan gak manis dan baunya bisa saya kompromikan dengan hidung saya.

Nah, ketika akhirnya saya mendapati bahwa harus diet gula dan disarankan untuk mengurangi asupan susu karena dikhawatirkan kandungan gula pada susu hamil membuat suntikan insulin saya tidak berpengaruh. Disatu sisi saya bersyukur, hahahha.. Namun disisi lainnya saya juga agak khawatir dengan asupan nutrisi si dedek… Kegalauan saya berkurang ketika akhirnya ahli gizi saya memberikan beberapa alternatif.. bahwasanya yang diambil dari susu lebih kepada kalsiumnya. Dan memang sebagian besar susu hamil tinggi kandungan gulanya yang bsa mengindikasikan ibu dan bayi bertambah berat badan secara drastis ( yang tentusaja ini bukan keinginan saya… saya sih pengennya yang dedek nya bb nya normal aja)

jadilah saya dikasih beberapa contoh bahan makanan yang bisa dijadikan sebagai sumber kalsium seperti di bawah ini :

Kalsium dalam makanan

Almond ¼ cangkir = 95 mg
Kacang, dikeringkan, dimasak 1 cangkir 90 mg
Bok choy ½ cangkir 79 mg
Collard ½ 169 mg
Susu 2% 250 cc 300 mg
Jus Jeruk diperkaya kalsium 175 cc 300 mg
Sardine dengan tulang 90 cc 324 mg
Bayam dimasak ½ cangkir 140 mg
Tahu diproses dengan kalsium sulfat 125 cc 434 mg
Tauge 125 gr 250 mg
Yoghurt buah 250 cc 345 mg
Yoghurt murni 1 cangkir 400 mg

Nah, untuk kebutuhan saya akan susu dan kalsium, pak ahli (*eh mas ding wong dianya masih muda.. hihihi..) menyarankan jika saya masih ragu bisa memenuhi asupan kalsium dari bahan makanan selain susu, Saya bisa minum susu yang khusus untuk orang Diabetes.. atau alternatif lainnya adalah susu Skim. Susu Skim ini rendah kandungan lemaknya dan sedikit mengandung gula sehingga bisa saya minum sesering mungkin..

Mulailah saya berburu info tentang susu Skim ini dan ternyata memanng susu ini tinggi kandungan kalsiumnya, namun sayang susah buat dijumpai. Sejauh ini saya baru mendapatkannya di salah satu toko bahan makanan di kota saya.. itupun belinya paketan per 1 ons. Harganya lumayan murah Rp. 8500,- per ons nya…dan ternyata susu skim ini merupakan bahan dasar dari beberapa jenis susu sebelum ditambahkan dengan berbagai kandungan gizi dan rasa dan dikemas dengan lebih mentereng dengan merk tertentu.

Rasanya? hihhihi… masih tetep belum bisa saya kompromikan, tapi ya bagaimana lagi.. demi dedek bayi, apapun akan saya lakukan supaya dia tetep sehat…Semangattttt

0

trisemster 1 part 1

Sebetulnya telat banget cerita ini, sudah cerita masalah diet malah baru nyeritain pengalaman hamilnya.. tapi gak papa lah udah kebelet ingin berbagi cerita pengalaman hamil nih…

Week 1
Kalau menurut hitungan dokter kandungan sy sekarang masuk minggu ke 14, jadi minggu pertama ini kalau gak salah sih jatuhnya di sekitaran minggu terakhir bulan January.. hmmm, apa ya yang kurasa? hahahha.. suer asli belum berasa apa-apa, kegiatan Canting masih full, masih wira-wiri Blitar Jogja dan masih belum nyadar kalau hamil.. karena secara siklus mens kan juga belum waktunya mens.. jadi ya masih seperti biasa. gak ada keluhan apapun pokoknya

Week 2
Hampir sama saat minggu pertama, cuman yang kerasa adalah nafsu makan meningkat, semua makanan di lahap, sudah mulai warning menghitung tanggal menstruasi. Kebetulan sih saya termasuk yang lancar dan siklusnya tetap 28 hari. Jadi selama mulai mens pertama saat masih SD sampai menikah lumayan bisa siap-siap kalau misal mau mens. Sudah mulai bertanya-tanya kenapa mens belum datang, tapi masih belum berani beli test pack (*takut kecewa seperti biasanya sih ya.. :D). Kondisi yang saya rasa masih seperti biasa.

Week 3
Mulai berasa sering pusing kepala, lebih dari migren pokoknya…. bangun tidur pusing, mau tidur juga pusing.. keluhan kehamilan pertama saya adalah nyeri punggung… duh, rasanya pengen nyenderin punggung ke tembok aja setiap harinya.. di minggu ini saya sudah beli test pack ketika jadwal mens mundur 3 hari dari biasanya.. Gak tanggung-tanggung beli 3 test pack. Semacam ada keyakinan bahwa kali ini saya akan dapat kabar gembira.
Dan siang sepulang dari Canting, tespack pertama saya pakai.. pertama kali ada garis samar pink lalu muncul garis kedua yang lebih terang.. huwaaaaa… perasaan saya lalu campur aduk, antara senang-ragu-bingung… beneran hamil gak ya? tapi kok samar… Nah, mungkin karena test nya siang jadi agak samar dan saya putuskan saya akan test ulang keesokan paginya. Saya belum bilang ke mas bojo sih pikir saya ntar ah nunggu besok pagi aja hahahha..
Nah, keesokan paginya ketika saya test ulang yang muncul adalah garis yang sama- dua garis dengan satu garisnya samar, malahan ini lebih samar lagi jika dibandingin test pack pertama-
Sukses mendadak membuat saya galauuuuu… dan akhirnya saya putuskan untuk cek ke dokter aja supaya lebih tenang.

3

Perilaku aman :)

Minggu ini kami masuk ke sub tema baru, Keamanan. Hmmm, membicarakan masalah keamanan dengan anak usia dini? Perlu kemasan yang lebih cerdik tentunya.. Dan mau tidak mau, sub tema kali ini membawa ingatan saya pada kejadian beberapa tahun yang lampau.

Kala itu, saya pernah berdiskusi seru dengan salah seorang teman sesama penggiat pendidikan anak usia dini. Inti percakapannya tentu saja masalah bagaimana anak bisa mengenali situasi aman tentang diri dan lingkungannya. Berawal dari pertanyaan “perlu gak sih belajar tentang keamanan? Bukankah mereka akan aman selagi ada kita orang dewasa didekatnya, aman yang seperti apa sih yang merupakan kebutuhan anak usia dini? So many question.., yang intinya adalah skill bagaimana supaya anak merasa aman, baik bagi dirinya dan perilaku aman dilingkungannya. ”

Dan betapa saya kemudian pernah pula tercengang, ketika suatu kali saya mendapatkan suatu kejadian riil di sebuah kelas TK kala saya berkecimpung menjadi pendamping lapangan untuk sebuah program multikultur.

Oke,sedikit cerita kronologi kala itu…
Pagi itu sang guru mengawali pelajaran dengan membaca cerita tentang bahaya api. (Yang kemudian saya tahu, di TK lain dalam wilayah satu gugus pun memberikan cerita yang sama)
Setelah itu guru mencoba menanyakan tentang bahaya api pada anak-anak, banyak yang kemudian menjawab bersahutan. Dan tanpa ada klarifikasi apapun guru kemudian memberikan kesimpulan bahwa api merupakan sesuatu yang berbahaya untuk anak dan dapat mengganggu keamanan kita semua, dan anak-anak tidak boleh main api sembarangan. Titik. Setelah itu guru membagikan lembar mewarnai tentang seorang anak yang sedang bermain dengan gambar rumah yang terbakar. That’s it.

Baiklah, proses pengamatan saya selesai hari itu. Setelah proses pembelajaran kelas selesai, saya ajak sang guru untuk duduk bersama. Saya minta untuk melihat satuan kegiatan hariannya, dan mengajaknya mereview apa yang telah dia lakukan dikelas kali ini dengan anak-anak didiknya.

Saya tanyakan tentang arti keamanan, beliau menjawab ya prilaku yang tidak membahayakan. Contohnya? Tidak main api, tidak bermain di sungai, dan berbagai rambu tidak. Baiklah, hal tersebut tidak sepenuhnya salah. Tapi yang kemudian terlewat adalah anak memerlukan alasan kongkrit kenapa hal tersebut dilarang. Saya coba lagi gali lebih dalam, selain mengenalkan tentang sesuatu yang aman apakah ada ketrampilan personal sederhana lainnya yang bisa dipelajari anak supaya mereka paham mengapa mereka harus memiliki perilaku aman? Beliau terdiam.

Begitulah, sering sekali saya temukan program/ kegiatan kelas yang hanya sekedar memberikan pengetahuan teknis kepada anak. Semisal : jangan main api, jangan main korek, dan berjuta larangan lainya. Tapi guru seringkali terlupa menyampaikan hal yang merupakan latar belakang kenapa anak mesti dilarang ini dan itu.

Sangat miris, ketika semakin hari yang ada kemanan dan keselamatan itu kemudian tidak berbentuk berupa kejadian alam semisal kebakaran namun berupa kasus bully antar teman. Bukankah mereka juga perlu hal itu?
Kemampuan mempertahankan diri, menolak perilaku kekerasan antar teman juga merupakan salah satu skill supaya anak merasakan aman untuk tumbuh dan berkembang.

So? Apa yang mesti kita lakukan, dan apa yang mesti kita siapkan kemudian?

*tugas kita, sebagai teman bermain dan belajar anak,ternyata masih panjangggggggggg*

-henny-

0

Senin, 29 okt ’12

Hari ini, senin terakhir di bulan Oktober. Pasca adanya dinding baru canting terusterang saja suasana belajar jadi lebih tenang.. Tak ada lagi kertas-kertas bertebaran tertiup angin.. Atau mainan dan buku yang tiba-tiba berjatuhan. Ya lokasi canting yang di tengah sawah memang penuh cerita.. Too windy…
Tapi sekarang udah nggak lagi lho.. Dinding udah tertup dan angin sudah berkurang, malah sekarang berasa sedikit panas..apalagi jika menjelang hujaann turun.

Pagi ini, seperti senin biasanya.. Kelas pasti berantakan.. Karena libur dua hari, ya selama belum ada pagar dan masih berupa bangunan terbuka,bisa dipastikan senin akan selalu diawali dengan gotong royong, menyapu, mengepel dan me- yang lainnya dengan dua kali lipat. Mengeluh? Tidak! Saya sungguh menikmatinya.. Dulu awal2 sih iya. Tapi sekarang… Ahhh, pekerjaan me-me-me itu anggap saja sebagai salah satu treatmen untuk diet saya.. Murah meriah dan sehat.

Hari ini tema kegiatannya adalah makanan kesukaanku, saya sudah menyiapkan berbagai gambar makanan dengan penuh perjuangan. Bagaimana tidak, pagi saya diawali dengan catridge pixma yang error.. Tinta birunya tercampur dengan merah, so jadilah gambar mie, bakso, telur mata sapi, nugget, donat semuanya berwarna ungu.. Saya menyerahhh si pixma tak tertolong.. Jadinya ya saya putar haluan, bergerak menyortir Majalah Femina lama koleksi saya.. Memotong di sana dan di sini dan finally terkumpulkah berbagai gambar makanan sehat, tidak sehat, sayur dan buah dengan berbagai ukuran…

Persiapan selesai! Saya ambil kertas besar, pensil dan crayon.. Anak-anak pun berdatangan.. Bermain dimulai!!!!

Setelah berdoa, kami berkumpul.. Kelas saya buka dengan pancingan pertanyaan “apa makanan kesukaanmu? ”
Berceritalah mereka.. Ada yang suka mie, nasi dengan kecap, maem daging sapi (mungkin masih terbawa aura liburan idul adha kemarin), dan telurr… Mereka juga menanyakan apa makanan kesukaan saya.. Hhahahahaa.. Setelah itu potongan gambar makanan saya keluarga dan seperti yang telah saya duga, berebutlah mereka memilih makanan yang saya sediakan. Ups! Gambar makanan maksudnya. Mereka masing-masing mengambil dua. Dan lagi saya minta mereka untuk mendeskripsika apa saja yang ada di dalam potongan gambar makanan tersebut. Jadilah kami ramai membahas item makanan yang ada..

Ada yang menemukan gambar makanan yang mereka suka (tentu saja, karena beberapa gambar memang saya sengaja cari.. Misal gambar mie ayam, telur dan nasi :D) lalu mereka pun menempel gambar makanan di kertas besar yang saya sediakan. Tak berhenti di situ mereka juga menambahkan gambar makanan kesukaan mereka dan menghias kertas besar itu hingga tak ada secuilpun kertas kosong di sana.

Setelah itu, sesi hari ini saya tutup dengan sedikit kesimpulan bahwa semua teman ada yang mempunyai makanan kesukaan yang sama. Dan ada pula yang tidak. Tapi walaupun begitu semuanya adalah teman. Tidak boleh saling mengejek karena makanan kesukaan yang berbeda. Dan ada beberapa eh banyak teman mereka yang kesusahan buat mencari makan. Jadi kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan yang kita punya…

0

bercerita… siapa takut?

Masih ingatkah dengan cerita tentang cerdiknya si Kancil memperdaya buaya ? atau kisah tentang seekor kera yang tidak bisa berenang namun ingin memetik pisang yang ada di pulau seberang, atau kisah cerita Jawa tentang bawang merah dan bawang putih? Itu hanya sedikit dari berjuta cerita yang kerap kita dengarkan pada masa kecil dulu bukan.. Bagaimana ibu dan ayah kita menceritakan tentang perbuatan baik dan buruk, saling menolong teman dan sebagainya… Ya, dongeng, apapun bentuknya pada dasarnya merupakan salah satu bentuk kenangan dari masa kecil yang masih akan mudah kita ingat.

Mengapa bercerita
Masa usia dini adalah masa yang sangat peka, dimana pada masa itu segala potensi perkembangan anak bisa mencapai tingkatan yang optimal. Termasuk berkembang didalamnya adalah perkembangan nalar dan juga moral. Piaget menjelaskan bahwa dalam rentang usia 3-6 tahun, anak masuk dalam tahapan heteronomuos dimana pada masa tersebut tahapan penalaran terhadap moral masih sangat labil, mudah terpengaruh dan mudah terbawa arus atau ikut-ikutan. Sebagai orang tua dan juga guru (yang merupakan sosok dewasa terdekat pada anak) perlu memberikan pendidikan moral yang baik, yang nantinya akan ditiru oleh anak. Salah satu cara untuk memberikan pendidikan moral dapat dilakukan dengan bercerita.
Bercerita, merupakan salah satu aktivitas yang disukai oleh anak apalagi jika dibawakan secara menarik, rata-rata anak senang mendengarkan cerita karena sifat dasar anak yang selalu ingin tahu dan menginginkan penjelasan dari apa yang mereka lihat, mereka dengar dan mereka rasa tentang berbagai hal yang baru. Dengan bercerita orang tua atau guru bisa memberikan pendidikan moral melalui cerita keteladanan, membandingkan perbuatan baik dan buruk, benar dan salah, dan berbagai karakter positif dalam sisipan ceritanya. Selain itu, dengan bercerita anak mampu merangsang perkembangan imajinasinya, anak akan merekam segala ekspresi, membayangkan apa yang terjadi dalam cerita dan merekamnya dalam ingatan.

Cerita dan pembentukan karakter
Bercerita secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang apa yang didengarkan dengan cara yang menyenangkan dan disajikan dengan cara yang menarik. Jadi bukan sebuah hal yang sulit bagi kita untuk memulai bercerita, karena unsur yang diperlukan hanya berupa pesan dan cara penyajian yang menarik saat bercerita.
Pada dasarnya terkait dengan cara penyajian atau metode bercerita, ada dua hal yang harus kita perhatikan saat bercerita kepada anak, yaitu bagaimana memulai cerita dan bagaimana menutup cerita kita. Memulai cerita sangat penting karena disini anak akan menunjukkan reaksinya terhadap apa yang akan kita ceritakan. Awal yang bagus akan membuat anak memperhatikan pesan apa yang akan kita sampaikan, membuka cerita dengan menggunakan sesuatu yang berbeda dan kreatif akan membuat anak tertarik untuk menyimak. Penutup cerita menjadi hal yang sangat penting karena disinilah pesan dapat disisipkan sehingga anak mendapatkan gambaran yang utuh dalam pemahaman cerita yang didengarnya.
Bercerita sebaiknya dilakukan ketika anak dalam suasana yang santai, sehingga pesan atau cerita bisa masuk kedalam alam bawah sadar, di mana alam bawah sadar inilah yang akan berperan untuk pembentukan karakter. Jadi ketika dongeng diberikan secara terus menerus maka akan banyak pesan yang masuk ke dalam alam bawah sadar anak. Dan jika pesan yang disampaikan adalah pesan positif maka yang akan masuk tentusaja pesan positif pula. Dalam bercerita anak akan belajar pula tentang pemecahan masalah sederhana, mengembangkan kemampuan berbahasa, mengembangkan aspek sosial, emosi, moral, menumbuhkan semangat berprestasi dan juga melatih konsentrasi anak.
Bercerita juga bisa melatih kedekatan emosi antara kita dengan anak, apalagi ketika kita bercerita tidak hanya secara verbal saja tapi juga melakukan tindakan fisik semisal membelai rambut, menyentuh atau memeluk anak hal ini akan semakin mengalirkan kehangatan dan kasih sayang.
Bercerita dengan menyenangkan
Untuk dapat bercerita yang menyenangkan, beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya adalah

  • Kita harus mulai belajar untuk “bicara” dengan anak dengan lebih hangat, memberikan pujian dan mengurangi kritikan, berbicara dengan kehangatan ini akan membawa kedalam kehangatan dan kedekatan karena anak akan belajar menghargai kita dan kedekatan akan membawa kemudahan bagi kita untuk terbuka kepada kita.
  • Bercerita erat kaitannya dengan menyampaikan informasi, maka kita memerlukan modal informasi yang banyak sebelum kita ceritakan kepada anak kita. Banyak membaca, bertukar cerita akan sangat bermanfaat untuk menambah kosakata cerita kita. Menggunakan buku sebagai media untuk bercerita bisa dilakukan untuk memancing ide cerita, namun akan lebih baik jika kita juga mampu mengembangkan ide cerita tidak terbatas dari buku, bisa tentang kehidupan alam yang ada disekita kita, atau hal-hal yang merupakan kebiasaan sehari-hari.
  • Waktu bercerita tidak perlu terlalu lama, rentang konsentrasi anak masih sangat terbatas. Jika cerita kita terlalu panjang maka anak akan bosan dan pesan kita tidak bisa tersampaikan. Cukup 5 – 20 menit itu sudah cukup. Karena pada dasarnya yang terpenting dari bercerita bukanlah panjang cerita namun kualitas cerita itu sendiri. Walau cuman sebentar tapi jika dilakukan setiap hari maka akan lebih efektif jika dibandingkan dengan berceita 1 jam tapi dilakukan sebulan sekali.
  • Gunakan kalimat terbuka, karena dengan menggunakan kalimat terbuka kita sekaligus akan mengasah kemampuan berbahasa anak, saat bercerita bisa jadi anak akan menyela dengan pertanyaan atau celetukan tanggapilah dengan membuat mereka menjadi bagian dari cerita itu sendiri, sehingga anak akan merasa benar-benar terlibat dalam cerita yang sedang kita sampaikan, sehingga pesan yang kita sisipkan akan lebih tertanam di benak anak.
  • Gunakan artikulasi yang jelas sehingga anak bisa menangkap kalimat yang kita sampaikan dengan jelas.
  • Bercerita tidak harus terpaku dalam suasana yang tegang, duduk dengan buku yang terbuka lebar, pilihlah waktu dan tempat yang menyenangkan, yang nyaman, aman dan bersih sehingga anak bisa nyaman mendengarkan cerita yang akan kita sampaikan

Jadi, bercerita… mudah bukan?

-henny-