0

belajar konsep diri melalui funny princess

“ Putri sejati itu putri yang baik hati….. Apa kamu baik hati? “

“Putri sejati itu tahu membalas budi, Putri sejati itu penolong dan selalu menggunakan hati… Putri sejati itu selalu dibutuhkan dan dicari….. dan putri sejati tidak pernah melarikan diri… “ kata Kiki…

Judul : Funny Princess, Petualangan seru di Kerajaan kayu

Jenis : Novel anak-anak

Penerbit : Mizan

Pangarang : Zulfairy

Kisah tentang seorang anak perempuan yang bernama Kiki ,kelas III SD. Kiki merupakan anak termuda di kelas yang gembira dan kreatif. Walaupun usianya masih muda Kiki sudah lancar membaca dan menulis. Dunia Kiki yang bahagia menjadi muram setelah kedatangan Anet dan Toto, duo kembar yang tidak mirip Murid pindahan dari luar negeri yang juga pandai membaca (dan juga menulis tentunya…hehhe), mempunyai banyak buku cerita berbahasa Inggris, mainan yang bagus dan juga pernah pergi ke Disneyland

Duo kembar ini kompak mengejek (*baca mem-bully) Kiki dengan menyebutnya sebagai putri genteng, seng, kaleng… setelah mereka membaca tulisan di buku Kiki.. mereka memberikan julukan itu hanya karena di rumah Kiki ada banyak tumpukan kaleng dan seng bekas untuk dijual kembali. Dan ejekan dari duo kembar ini diikuti pula oleh teman yang lainnya.

Kiki sedih, apa yang dibayangkan sebagai seorang putri pun berubah… Bahwa seorang anak tukang pengumpul barang bekas tidak pantas menjadi seorang putri, bahwasanya seorang putri itu harus tinggal di Istana, memiliki baju yang bagus, rambut yang indah. Hal-hal itulah yang tidak dipunyai Kiki, Kiki kesal karena ternyata menjadi seorang putri itu harus memiliki syarat!!

Kekesalan Kiki terhadap membawanya berpetualang secara “ajaib” ke kerajaan Kayu. Bertemu dengan Potporri, Jup-Hon, Un-Hon, Blibi, Tupi, dan Pandai pelatuk. Melintasii belantara nihil, membuat terowongan tujuh arus, menyusuri jalan permata, menginap di kota malam hari…

Petualangan seru (menuju ke dan di ) Kerajaan kayu, membantu Kiki untuk belajar untuk berani, memecahkan masalah, bekerjasama, dan juga menolong teman… membawa Kiki menuju petualangan menjadi puteri yang sejati..(*tentu saja gak kan seru tho kalo saya cerita semuanya di sini????? hehehehh)

********

Hmm, saya harus memulai dari mana ya…

Ditengah gegap gempita perayaan hari Anak Nasional, kasus kekerasan terhadap anak mau tak mau masih menempati urutan tertinggi. Baik itu kekerasan fisik ( tak jarang kan berita pemukulan, penendangan, dll), kekerasan verbal, maupun penelantaran. Banyak tokoh dan aktivis anak juga berbicara dan berkampanye, banyak juga yang telah berbuat, namun sepertinya fenomena ini tak akan habis dalam waktu dekat.

Pun halnya yang dilakukan penulis, buku ini juga salah-satu bentuk kampanye anti bullying.

Zulfaiiry menguraikan betapa tidak enaknya ketika tidak diajak main dengan teman yang lain, ditertawakan ketika kita tidak tahu, ketakutan akan kehilangan sosok yang paling disayang, dan juga berani melawan tanpa menggunakan kekerasan yang dipersonkan melalui tokoh utama (anak usia SD) tentunya.

Fantasi menurut saya sangat pas untuk pintu “masuk” ke dalam dunia anak-anak yang masih penuh dengan imajinasi. Penggambaran cerita yang tidak terkesan magis (*gak ada kekuatan ajaib macam naruto atau narnia, heheheh) dan masih dekat dengan alam (memunculkaan banyak binatang dan tanaman yang ada di sekitar kita) dan tak lupa adanya penekanan “pesan moral” semacam meninggalkan ketakutan untuk mulai melangkah maju, membuat saya membayangkan anak-anak akan lebih mudah memahami maksud penulis sebenarnya.

**terusterang, setiap kali selesai membaca satu bab membuat saya berfikir “hmm, jangan-jangan membuat jembatan untuk membedung tujuh arus itu pasti ada maksudnya…”, ” terus keberadaan potporri itu pasti merupakan kiasan bahwa ketika menjadi seorang korban bullying akan terasa lebih aman dan membantu jika mempunyai seorang teman.” Dan masih banyak yang lainnya….**

Tanpa bermaksud menggurui, Zulfairy mengajak pembaca untuk menemukan berbagai kemampuan pemahaman diri positif yang tersirat di setiap bab-nya… dan pesan-pesan itulah yang dikemudian menjadi nilai atau “kekuatan” untuk melawan ketidakadilan (ceileeeee……)

kelemahannya????

Semuanya terasa wajar dan menarik, ilustrasi yang diselipkan di beberapa halaman terus terang membantu saya untuk membentuk imajinasi… melukiskan bagaimana bentuk jalan permata, kota malam hari dan bergoyang seru ketika Kiki membunyikan bel khusus milik pak Pandai… tulisan dengan font yang tidak terlau kecil membuat nyaman di baca (terutama untuk anak usia SD…), dan tentu saja jumlah halaman yang tidak terlalu tebal. Yang membuat saya sedikit terganggu kelas Kiki yang tidak konsisten… (dibagian awal diceritakan Kiki duduk di akhir ajaran kelas 3, eh diakhir cerita disebutkan seting kelas nya Kiki sudah di kelas V… ).

****

Ini buku kedua yang membuat saya harus bolak-balik, bertanya-tanya, dan berharap-mengharap, dan membongkar-bongkar lagi tumpukan buku baru di tiga toko buku di kota saya.. dan rasa penasaran tersebut terbayar dengan petualangan yang saya temui saat membacanya…

-henny-