bercerita… siapa takut?

Masih ingatkah dengan cerita tentang cerdiknya si Kancil memperdaya buaya ? atau kisah tentang seekor kera yang tidak bisa berenang namun ingin memetik pisang yang ada di pulau seberang, atau kisah cerita Jawa tentang bawang merah dan bawang putih? Itu hanya sedikit dari berjuta cerita yang kerap kita dengarkan pada masa kecil dulu bukan.. Bagaimana ibu dan ayah kita menceritakan tentang perbuatan baik dan buruk, saling menolong teman dan sebagainya… Ya, dongeng, apapun bentuknya pada dasarnya merupakan salah satu bentuk kenangan dari masa kecil yang masih akan mudah kita ingat.

Mengapa bercerita
Masa usia dini adalah masa yang sangat peka, dimana pada masa itu segala potensi perkembangan anak bisa mencapai tingkatan yang optimal. Termasuk berkembang didalamnya adalah perkembangan nalar dan juga moral. Piaget menjelaskan bahwa dalam rentang usia 3-6 tahun, anak masuk dalam tahapan heteronomuos dimana pada masa tersebut tahapan penalaran terhadap moral masih sangat labil, mudah terpengaruh dan mudah terbawa arus atau ikut-ikutan. Sebagai orang tua dan juga guru (yang merupakan sosok dewasa terdekat pada anak) perlu memberikan pendidikan moral yang baik, yang nantinya akan ditiru oleh anak. Salah satu cara untuk memberikan pendidikan moral dapat dilakukan dengan bercerita.
Bercerita, merupakan salah satu aktivitas yang disukai oleh anak apalagi jika dibawakan secara menarik, rata-rata anak senang mendengarkan cerita karena sifat dasar anak yang selalu ingin tahu dan menginginkan penjelasan dari apa yang mereka lihat, mereka dengar dan mereka rasa tentang berbagai hal yang baru. Dengan bercerita orang tua atau guru bisa memberikan pendidikan moral melalui cerita keteladanan, membandingkan perbuatan baik dan buruk, benar dan salah, dan berbagai karakter positif dalam sisipan ceritanya. Selain itu, dengan bercerita anak mampu merangsang perkembangan imajinasinya, anak akan merekam segala ekspresi, membayangkan apa yang terjadi dalam cerita dan merekamnya dalam ingatan.

Cerita dan pembentukan karakter
Bercerita secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah kegiatan yang dilakukan secara lisan kepada orang lain dengan alat atau tanpa alat tentang apa yang didengarkan dengan cara yang menyenangkan dan disajikan dengan cara yang menarik. Jadi bukan sebuah hal yang sulit bagi kita untuk memulai bercerita, karena unsur yang diperlukan hanya berupa pesan dan cara penyajian yang menarik saat bercerita.
Pada dasarnya terkait dengan cara penyajian atau metode bercerita, ada dua hal yang harus kita perhatikan saat bercerita kepada anak, yaitu bagaimana memulai cerita dan bagaimana menutup cerita kita. Memulai cerita sangat penting karena disini anak akan menunjukkan reaksinya terhadap apa yang akan kita ceritakan. Awal yang bagus akan membuat anak memperhatikan pesan apa yang akan kita sampaikan, membuka cerita dengan menggunakan sesuatu yang berbeda dan kreatif akan membuat anak tertarik untuk menyimak. Penutup cerita menjadi hal yang sangat penting karena disinilah pesan dapat disisipkan sehingga anak mendapatkan gambaran yang utuh dalam pemahaman cerita yang didengarnya.
Bercerita sebaiknya dilakukan ketika anak dalam suasana yang santai, sehingga pesan atau cerita bisa masuk kedalam alam bawah sadar, di mana alam bawah sadar inilah yang akan berperan untuk pembentukan karakter. Jadi ketika dongeng diberikan secara terus menerus maka akan banyak pesan yang masuk ke dalam alam bawah sadar anak. Dan jika pesan yang disampaikan adalah pesan positif maka yang akan masuk tentusaja pesan positif pula. Dalam bercerita anak akan belajar pula tentang pemecahan masalah sederhana, mengembangkan kemampuan berbahasa, mengembangkan aspek sosial, emosi, moral, menumbuhkan semangat berprestasi dan juga melatih konsentrasi anak.
Bercerita juga bisa melatih kedekatan emosi antara kita dengan anak, apalagi ketika kita bercerita tidak hanya secara verbal saja tapi juga melakukan tindakan fisik semisal membelai rambut, menyentuh atau memeluk anak hal ini akan semakin mengalirkan kehangatan dan kasih sayang.
Bercerita dengan menyenangkan
Untuk dapat bercerita yang menyenangkan, beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya adalah

  • Kita harus mulai belajar untuk “bicara” dengan anak dengan lebih hangat, memberikan pujian dan mengurangi kritikan, berbicara dengan kehangatan ini akan membawa kedalam kehangatan dan kedekatan karena anak akan belajar menghargai kita dan kedekatan akan membawa kemudahan bagi kita untuk terbuka kepada kita.
  • Bercerita erat kaitannya dengan menyampaikan informasi, maka kita memerlukan modal informasi yang banyak sebelum kita ceritakan kepada anak kita. Banyak membaca, bertukar cerita akan sangat bermanfaat untuk menambah kosakata cerita kita. Menggunakan buku sebagai media untuk bercerita bisa dilakukan untuk memancing ide cerita, namun akan lebih baik jika kita juga mampu mengembangkan ide cerita tidak terbatas dari buku, bisa tentang kehidupan alam yang ada disekita kita, atau hal-hal yang merupakan kebiasaan sehari-hari.
  • Waktu bercerita tidak perlu terlalu lama, rentang konsentrasi anak masih sangat terbatas. Jika cerita kita terlalu panjang maka anak akan bosan dan pesan kita tidak bisa tersampaikan. Cukup 5 – 20 menit itu sudah cukup. Karena pada dasarnya yang terpenting dari bercerita bukanlah panjang cerita namun kualitas cerita itu sendiri. Walau cuman sebentar tapi jika dilakukan setiap hari maka akan lebih efektif jika dibandingkan dengan berceita 1 jam tapi dilakukan sebulan sekali.
  • Gunakan kalimat terbuka, karena dengan menggunakan kalimat terbuka kita sekaligus akan mengasah kemampuan berbahasa anak, saat bercerita bisa jadi anak akan menyela dengan pertanyaan atau celetukan tanggapilah dengan membuat mereka menjadi bagian dari cerita itu sendiri, sehingga anak akan merasa benar-benar terlibat dalam cerita yang sedang kita sampaikan, sehingga pesan yang kita sisipkan akan lebih tertanam di benak anak.
  • Gunakan artikulasi yang jelas sehingga anak bisa menangkap kalimat yang kita sampaikan dengan jelas.
  • Bercerita tidak harus terpaku dalam suasana yang tegang, duduk dengan buku yang terbuka lebar, pilihlah waktu dan tempat yang menyenangkan, yang nyaman, aman dan bersih sehingga anak bisa nyaman mendengarkan cerita yang akan kita sampaikan

Jadi, bercerita… mudah bukan?

-henny-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s