Lebaran sebentar lagi…

Lebaran selasa apa rabu? Tulisan semacam itu mulai banyak muncul dua hari terakhir ini di news feed FB dan juga menjadi perbincangan yang seru di group yang kuikuti. Selasa apa rabu? kamu MUhammadiyah atau NU? pemerintah atau ormas?

Sebetulnya bukan kali ini saja sih perbedaan hari raya itu, sejak saya kecil ada beberapa bagian kelompok masyarakat muslim di sekitar saya yang terkadang memiliki hari raya yang berbeda.

Saya tumbuh di lingkungan NU, bukan.. bukan berarti saya tinggal di lingkungan pesantren. Namun masyarakat kampung saya sebagai mana penduduk jawa timuran biasanya mereka rata-rata menganut NU.  Kalau dirunut-runut lagi jauh kebelakang saya sebetulnya juga ndak begitu paham apa sih sebenarnya beda NU dan Muhammadiyah? Yang saya rasakan beda ya cuman antara shalat shubuh pakai bacaan qunut dan tidak. itu saja. Ya, walau saya paham bukan hanya masalah qunut saja kan tentunya. Saya masih ingat dulu, saat saya belajar shalat dengan seorang kakak kelas jaman saya masih SD, dia tanya kamu NU kan? nanti doanya yang panjang ya? hmm, jadi NU identik dengan doa panjang kah? Pun saya pernah bertanya pada guru ngaji saya, saya tidak begitu ingat apa penjelasan rincinya mungkin karena saya lebih banyak tertarik “grudag-grudug”nya dengan teman-teman dan buka belajar agamanya.

Keluarga saya? hmm, ayah saya orang yang sangat demokratis sekali. Sepanjang ingatan saya, beliau tidak pernah memaksa saya untuk belajar sangat keras tentang ilmu agama, entah karena apa.. Beliau lebih memilih menitipkan saya kepada kyai kampung untuk membelajari saya membaca a-ba-ta-tsa… dan belajar ngaji mengaji itu pun terhenti kala pak kyai harus pindah rumah ke bangkalan karena dinas beliau berpindah kesana. Dan otomatis, saya menjadi anak main lagi lah..kesempatan belajar agama saya pun terbatas hanya melalui buku dan juga bertanya kepada teman-teman yang saya anggap lebih tahu.

Ketika saya hijrah ke Yogya untuk meneruskan kuliah, disinilah kegiatan belajar agama saya menjadi terpacu dengan sangat. Tinggal satu rumah dengan kakak angkatan yang aktivis KA**I membuka lebar mata, hati dan telinga saya. Diskusi, belajar mengaji dan telaah hadist, pun mengejar tausyiah pagi hari di sebuah mesjid fakultas yang jauh dari tempat tinggal pun saya lakoni. Disini pulalah perbedaan NU dan Muhammadiyah itu semakin kerasa. Yogya yang sebagai tempat akar muasal nya Muhammadiyah menyumbang banyak persepsi baru dalam benak saya. bahwa perbedaan NU dan Muhammadiyah bukan hanya sebatas doa qunut atau jumlah rakaat shalat tarawih saya.

Saya pribadi? hmm.. saya tak harus memilih saya mau ikut yang mana bukan? bukankah hakikat ibadah itu hanya antara kita dan Tuhan kita yang tahu. Menjadi seorang Muhammadiyah atau menjadi seorang NU bukanlah untuk saling menggembor-gemborkan mana yang benar. Hanya orang yang picik lah yang hanya memakai simbol sebagai topeng untuk memperuncing perbedaan yang sebenarnya tidak krusial.

Hmm, siapapun kamu, NU atau Muhammadiyah kah… Lebaran selasa atau rabu, yang penting itu tidak menjadi penghalang dalam mempererat silaturahmi kita. Happy Eid Mubarrak, kawans! semoga kita tidak hanya menjadi insan yang hanya diam terkotakkan oleh perbedaan..

 

-henny-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s