Dua Jenis Guru

Dua Jenis Guru
Thursday, 05 May 2011

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/396682/34/

Di Hari Pendidikan lalu, saya bertemu dua jenis guru. Guru pertama
adalah guru kognitif, sedangkan guru kedua adalah guru kreatif. Guru
kognitif sangat berpengetahuan.Mereka hafal segala macam rumus, banyak
bicara, banyak memberi nasihat, sayangnya sedikit sekali mendengarkan.

Sebaliknya, guru kreatif lebihbanyaktersenyum,namun tangan dan
badannya bergerak aktif. Setiap kali diajak bicara dia mulai dengan
mendengarkan, dan saat menjelaskan sesuatu, dia selalu mencari alat
peraga.Entah itu tutup pulpen, botol plastik air mineral,kertas
lipat,lidi,atau apa saja. Lantaran jumlahnya hanya sedikit, guru
kreatif jarang diberi kesempatan berbicara. Dia tenggelam di antara
puluhan guru kognitif yang bicaranya selalu melebar ke mana-mana.
Mungkin karena guru kognitif tahu banyak, sedangkan guru kreatif
berbuatnya lebih banyak.

Guru Kognitif

Guru kognitif hanya mengajar dengan mulutnya.Dia berbicara panjang
lebar di depan siswa dengan menggunakan alat tulis. Guru-guru ini
biasanya sangat bangga dengan murid-murid yang mendapat nilai tinggi.
Guru ini juga bangga kepada siswanya yang disiplin belajar, rambutnya
dipotong rapi, bajunya dimasukkan ke dalam celana atau rok, dan hafal
semua yang dia ajarkan. Bagi guru-guru kognitif, pusat pembelajaran
ada di kepala manusia, yaitu brain memory.Asumsinya, semakin banyak
yang diketahui seseorang, semakin pintarlah orang itu.

Dan semakin pintar akan membuat seseorang memiliki masa depan yang
lebih baik. Guru kognitif adalah guruguru yang sangat berdisiplin.
Mereka sangat memegang aturan, atau meminjam istilah para birokrat
(PNS),sangat patuh pada ”tupoksi”.Saya sering menyebut mereka sebagai
guru kurikulum. Kalau di silabus tertulis buku yang diajarkan adalah
buku ”x” dan babbab yang diberikan adalah bab satu sampai dua
belas,mereka akan mengejarnya persis seperti itu sampai tuntas.

Karena ujian masuk perguruan tinggi adalah ujian rumus, guru-guru
kognitif ini adalah kebanggaan bagi anakanak yang lolos masuk di
kampus-kampus favorit.Kalau sekarang, mereka adalah kebanggaan bagi
siswa-siswa peserta UN. Sayangnya, sekarang banyak ditemukan anak-anak
yang cerdas secara kognitif sulit menemukan ”pintu” bagi masa
depannya.Anak-anak ini tidak terlatih menembus barikade masa depan
yang penuh rintangan, lebih dinamis ketimbang di masa lalu, kaya
dengan persaingan, dan tahan banting.

Saya sering menyebut anakanak produk guru kognitif ini ibarat kereta
api Jabodetabek yang hanya berjalan lebih cepat daripada kendaraan
lain karena jalannya diproteksi,bebas rintangan. Beda benar dengan
kereta supercepat Shinkanzen yang memang cepat. Yang satu hanya
menaruh lokomotif di kepalanya,sedangkan yang satunya lagi, selain di
kepala, lokomotif ada di atas seluruh roda besi dan relnya.

Guru Kreatif

Ini guru yang sering kali dianggap aneh di belantara guru-guru
kognitif.Sudah jumlahnya sedikit, mereka sering kali kurang peduli
dengan tupoksi dan silabus. Mereka biasanya juga sangat toleran
terhadap perbedaan dan cara berpakaian siswa. Tetapi, mereka
sebenarnya guru yang bisa mempersiapkan masa depan anak-anak
didiknya.Mereka bukan sibuk mengisi kepala anak-anaknya dengan
rumus-rumus, melainkan membongkar anak-anak didik itu dari segala
belenggu yang mengikat mereka.

Belenggu- belenggu itu bisa jadi ditanam oleh para guru, orang tua,
dan tradisi seperti tampak jelas dalam membuat gambar (pemandangan,
gunung dua buah, matahari di antara keduanya, awan, sawah, dan
seterusnya). Atau belenggu-belenggu lain yang justru mengantarkan
anak-anak pada perilaku-perilaku selfish, ego-centrism,merasa paling
benar,sulit bergaul, mudah panik, mudah tersinggung, kurang berbagi,
dan seterusnya.

Guru-guru ini mengajarkan life skills, bukan sekadar soft skills,
apalagi hard skill. Berbeda dengan guru kognitif yang tak punya waktu
berbicara tentang kehidupan, mereka justru bercerita tentang kehidupan
(context) yang didiami anak didik. Namun, lebih dari itu, mereka aktif
menggunakan segala macam alat peraga. Bagi mereka, memori tak hanya
ada di kepala, tapi juga ada di seluruh tubuh manusia.

Memori manusia yang kedua ini dalam biologi dikenal sebagai myelin dan
para neuroscientistmodern menemukan myelin adalah lokomotif penggerak
(muscle memory). Di dalam ilmu manajemen, myelin adalah faktor
pembentuk harta tak kelihatan (intangibles) yang sangat vital seperti
gestures, bahasa tubuh, kepercayaan, empati, keterampilan,disiplin
diri,dan seterusnya.

Saat bertemu guru-guru kognitif, saya sempat bertanya apakah mereka
menggunakan alat-alat peraga yang disediakan di sekolah? Saya
terkejut, hampir semua dari mereka bilang tidak perlu, semua sudah
jelas ada di buku. Beberapa di antara mereka bahkan tidak tahu bahwa
sekolah sudah menyediakan mikroskop dan alatalat bantu lainnya.
Sebaliknya,guru-guru kreatif mengatakan: ”Kalau tidak ada alat
peraga,kita akan buat sendiri dari limbah.

Kalau perlu, kita ajak siswa turun ke lapangan mengunjungi lapangan.
Kalau tak bisa mendatangkan Bapak ke dalam kelas, kita ajak siswa ke
rumah Bapak,”ujarnya. Saya tertegun. Seperti itulah guru-guru yang
sering saya temui di negara-negara maju. Di negara-negara maju lebih
banyak guru kreatif daripada guru kognitif. Mereka tak bisa mencetak
juara Olimpiade Matematika atau Fisika,tetapi mereka mampu membuat
generasi muda menjadi inovator, entrepreneur, dan CEO besar.

Mereka kreatif dan membukakan jalan menuju masa depan. Saat membuat
disertasi di University of Illinois, para guru besar saya bukan
memaksa saya membuat tesis apa yang mereka inginkan, melainkan mereka
menggali dalam-dalam minat dan objektif masa depan saya. Sewaktu saya
bertanya, mereka menjawab begini: ”Anda tidak memaksakan badan Anda
pada baju kami, kami hanya membantu setiap orang untuk membuat bajunya
sendiri yang sesuai dengan kebutuhannya.” Selamat merayakan Hari
Pendidikan dan jadilah guru yang mengantarkan kaum muda ke jendela
masa depan mereka.

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s