jalan jalan ke situs Tapan

Tubuh kami tak berbayang saat sampai di areal pesawahan di mana situs Tapan berada, tengah hari.
Sungguh waktu yang tak tepat untuk “blusukan”, apalagi kostum kami benar-benar mengundang decak heran petani yang sebagian besar tengah membajak tanah menyiapkan untuk musim tanam berikutnya.

Berbekal info lisan dari penjaga candi Sawentar, kami melanjutkan perjalanan ekspedisi hingga ke daerah Talun (Blitar Timur). dua kali bertanya dan sampailah kami di areal persawahan yang sangat luas. tanpa ada tanda-tanda adanya situs BCB (biasanya di Jawa Timur, BCB identik dengan kawat ijo berduri…)

sempat mengalami sedikit adegan dramatis ketika motor saya kebablasan dan terpaksa harus didorong dan di tarik naik ke areal yang aman… *serasa ada adegan fear factor dengan dikiri pematang sawah ada sungai kecil , dan di kanan pematang ada jurang yang lumayan dalam mengarah ke sungai Jari. salah satu sungai utama bagi penduduk desa Bendosewu.

menyusuri pematang sawah dan kolam, sampailah kami di rerimbunan kebun kopi. dan terbentanglah disana situs Tapan (berasal dari kata per-tapa-an = artinya tempat orang biasa memuja)
Sebetulnya berita tentang penemuan situs ini sudah masuk ke BP3 Trowulan sejak tahun 1995, namun pada awal 2010 ditindak llanjuti karena gencarnya laporan yang masuk ke Dinas tentang adanya penggalian liar yang dilakukan oleh oknum.

Menurut Danang Wahyu Utomo (arkeolog, BP3 Trowulan ) yang dilansir oleh beberapa media. Situs Tapan ini diiperkirakan sebagai tinggalan Majapahit, belum diketahui secara pasti kapan tepatnya candi ini dibagun karena belum ada penanggalan yang mengidikasikan hal tersebut. yang jelas situs ini merupakan Situs Hindu yang bercorak Siwais, hal ini dikuatkan dengan ditemukannya Yoni beserta dua buah nandi yang letaknya tidak jauh dari kompleks percandian.

situs Tapan memiliki struktur bangunan dari tumpukan batu bata merah dan beberapa arca terbuat dari batu andesit. Seperti umumnya candi-candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Namun, Danang penasaran, karena pintu masuk situs di Bakulan ini menghadap ke timur. Sedangkan umumnya candi peninggalan Kerajaan Majapahit menghadap ke barat. “Situs Tapan ini juga terdapat beberapa arca berbentuk binatang (fable) dan arca Yoni sebagai perwujudan dewi kesuburan,” ujar Danang yang sudah sepuluh hari melakukan restorasi di situs Tapan. Danang dibantu sepuluh petugas dari BP3 Trowulan bekerja untuk mengumpulkan sejumlah arca yang sudah berserakan. “Berat arca ada yang mencapai ratusan kilogram,” ujarnya.

Kabid, warga yang ditugasi membersihkan dan menjaga situs menjelaskan bahwa Situs Tapan ini juga pernah di jarah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. “dulu, ada yang langsung nggali terus dikepras mbak”, kata beliau sembari menunjukkan dindin sebelah selatan yang digali secara sembarangan. ” Tapi,setelah ada orang dari Mojokerto (BP3), terus pada gak ada lagi.”

*****
temuan-temuan baru sepertinya akan sering bermunculan…
diperlukan kesadaran dan usaha keras untuk membuat hasil karya nenek moyang kita itu supaya tak lekang oleh jaman..
salam budaya!
salam lestari
(ditulis berdasarkan pengalaman, wawancara dg pak Kabid, dan berbagai sumber media)
-HP-

di tengah sawah, berpagar bambu…
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s