arca warak yang semarak

kali ini saya ber-blusukan ria sendirian… bukan bermaksud heroik, namun memang menguji keberanian tahap awal tentunya… dengan fikiran, tokh tak selamanya saya menunggu hanya supaya terkesan kompak kan???

 

papan nama arca warak sebetulnya seringkali saya lintasi dalam perjalanan gandusari-panataran…

beberapa kali terlewat, dan beberapa kali menggelitik keingininan untuk berbelok.. namun entah kenapa kali ini malah saya memutuskan memuaskan rasa penasaran saya bukan dari jalur yang biasa saya tempuh…

 

tetap berawal dari Pacuh, ke selatan dan sampailah saya di pintu masuk komplek panataran… menngambil jalan lurus ketimur setelah pasar panataran, menyusuri jalanan desa modangan. sesampai di balai desa, saya ke utara…. jauhhhhhhhhhhh sekali… hingga sampai ke batas perkebunan karang anyar… celingak-celinguk karena merasa asing, dan benarlah… kiranya saya telah terlewat terlalu jauh…

 

kompleks arcca warak tak jauh rupanya dari  utara balai desa itu,… masuk ke timur setelah angkringan sederhana… ketengah rimbun perkampungan penduduk… dan voila! disamping sumber mata air dan pekuburan sesepuh desa…

 

sedikit horror dan singup… bulu kuduk saya meremang sesekali….celingak-celinguk saya mencari teman *inilah susahnya jalan sendirian* siang yang terik terasa sangat diammmm…bolak-balik saya dengan si vegalo… memutuskan turun atau tidak…. berhenti atau tidak… masuk atau tidak… yakin atau tidak…. hmmmm…. semakin meremang kuduk saya…

 

****

tak disangka, datanglah dua dik alias… dengan berbekal kertas gambar datang menghampiri… ah ahai… teman kecil rupanya, segera saya turun dan menyapa… mengajaknya menemani saya berkeliling komplek arca yang…*dengan janji memotretnya setelah menemani :)*

 

terserak….

batu besar…

diamm….

tak berstruktur…

masih dipakai untuk ritual….

 

banyak yang terlintas… sempat saya berfikir… batu arca yang “giant” itu berasal dari masa klasik yang lebih muda..

arca sederhana..

tanpa hiasan… dengan tinggi lebih dari batas kepala saya…

 

kemuncak (?)

ada candikah? untuk batu raksasa yang sebesar itu tak mungkin berada candi yang hanya seluas ini… beberaapa potong batu masih menghujam ke tanah.. hanya separuh yang terlihat… dan itupun sudah setinggi betis saya…hmm, jangan-jangan di bawah sana… masih ada candi yang belum digali… ah, hai… coba disingkap lebih lanjut… pasti menyenangkan (tentunya memerlukan dana yang besar kan???)

 

relief….

khas jawatimuran dengan ukiran pipih dan simetris… hmm, relief apakah???? tak tampak jelas karean dia hanya sendiri, hanya satu fragmen berdiri sendiri tanpa teman, tanpa bidang …. dua figur.. mungkin nukilan potret masyarakat sekirtar sana waktu dulu…

*penasaran, dimakaha relief yang lainnya? apakah sudah di”rawat” atau benar di rawat??*

 

badak…

sempat terlewat dari pengamatan saya…terletak di pojok timur komplek… badak batu… menggugah langkah saya mendekatinya, dan ketika saya amati lebih jauh… aha hay… cerat… dengan ujung seperti ujung yoni….

tempat air mengalir… untuk upacara kah? kenapa bentuknya badak? kenapa bukan yoni? aliran keagamaan jenis barukah?? argh.. sejuta penasaran…

 

warak???

mengingatkan saya tentang sepotong nama yang ppernah tercantum dalam silsilah prasasti keluaran balitung… rakai warak dyah manara…

warak di nama itu jelas merujuk nama tempat…

tapi, warak yang di sini ??

hingga datanglah sebuah pesan singkat dari seorang teman : kalumwarak = kelurak = warak = rhinnoceros = badak

 

-henny-

*mulai benar merasa bahwa NYANDI itu NYANDU*

Iklan

One thought on “arca warak yang semarak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s